Infoindomaju.com- PAREPARE- KERAJAAN BACUKIKI, Pada Abad XV Tahun 1.500 — sampai kini
Sejarah kerajaan Bacukiki
Jauh sebelum datangnya pemerintah Hindia Belanda, di daerah Mallusetasi terdapat empat kerajaan kecil yang berdiri sendiri dan berkuasa sendiri, yaitu ;
1) kerajaan Nepo, yang membawahi lagi kerajaan/akkarungeng yang lebih kecil seperti Manuba (onyi), Mareppang dan Palanro,
2) kerajaan Soreang yang daerahnya meliputi sebahagian Kota Parepare sekarang
3) kerajaan Bacukiki dan
yang diberi kelebihan yaitu :
" Napoade Ade’na, Napo bicara Bicaranna " artinya ; dapat mengatur dirinya sendiri.
Empat kerajaan ini tergabung dalam satu ikatan yang disebut
“LILI PASSIAJING” yang dikoordinir oleh Addatuang Sidenreng.
Sekitar tahun 1900 Belanda berhasil menduduki Bone, tahun 1905 menggempur Soppeng dan berhasil menduduki kerajaan itu namun menerima perlawanan sengit. Kemudian sampai ke daerah Mallusetasi.
Pada tahun 1906 terbentuklah Kerajaan Mallusetasi yang merupakan himpunan dari kerajaan Soreang, Bacukiki, Bojo dan Nepo dengan raja pertama yaitu Arung Nepo I Simatana.
Lontara kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad ke-14 seorang anak Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah tersendiri pada tepian pantai karena memiliki hobi memancing.
Wilayah itu kemudian dikenal sebagai kerajaan Soreang, kemudian satu lagi kerajaan berdiri sekitar abad ke-15 yakni Kerajaan Bacukiki.
Bacukiki merupakan pelabuhan dan bandar perdagangan kesohor di nusantara pada abad ke-15 dan ke-16.
Dengan posisinya tersebut, ia menjadi rebutan kerajaan di Sulawesi.
Tercatat beberapa kerajaan yakni ; Kerajaan Wajo, Gowa, Bone dan Kerajaan Siang (Pangkajene).
Saat Bacukiki dikuasai kerajaan Gowa dibawah kepemimpinan Raja Gowa X Tunipalangga (1546 – 1565), banyak rakyat Bacukiki dipindahkan ke Gowa, termasuk orang-orang Melayu yang sudah mendirikan perwakilan usaha di Bacukiki.
Dan itulah asal mula banyak pemukim Melayu di Makassar (Gowa).
Kerajaan di Sulawesi selatan, abad ke-17
Silsilah Raja Bacukiki, versi 1
Sumber Data: dari Wawancara dengan Puang Nene’ta, HJ. Puang Sitti Rahma yang termasuk generasi ke-7 Kerajaan Bacukiki (Keturunan dari Petta Winru/Puang Winru) yang berdomisili di daerah Kecamatan Biringkanayya Daya Kota Makassar tgl 31 Desember 2010.
– Sumber: http://beritaparepare.blogspot.com/2013/12/silsilah-keturunan-kerajaan-bacukiki.html
————————
1) Raja ke-1: Arung Bacu (Arung Bacukiki) Petta Labattoa
Keturunan dari Datu Suppa to Ware. IPalaguna (Ayah).
Menikah dengan: Petta Denresana (Andi Mutiara), anak dari Addatuatta to Wappo Sidenreng (ayah).
2) Raja ke-2: Petta LaTinro (Petta Bola Mattanrue)
Rumahnya di setiap ujung Atap Mempunyai
Tanru/Tanduk ( Anjong ) yang terletak di daerah Bacukiki Cilellang Rijanna Salo Pokko / Bola Soraja Cilellang.
Menikah dengan: Petta Lola (Puang Lola) dari Arung Pone.
3) Raja ke-3: (Aru Bacukiki Lamabbiritta) Petta Keppang’nge / Petta Macowa’e
4) Raja ke-4: Petta Tayya / Puang Mattayya
Yang mempunyai Keturunan anak 5 orang, Yaitu ;
1. Petta Lamanni / Puang Manni (saudara tertua )
2. Petta Winru / Puang Winru
3. Petta Mattawe / Puang Mattawe
4. Petta La Palontang
5. Puang Toalla.
5) Raja ke-5: Petta Manni / Puang KepalaToa’e (saudara tertua).
Menikah dengan: Petta IBuabare.
6) Raja ke-6: Petta Dempalie
Menikah dengan: Petta Bau Andi Cammi (Sidenreng)
7) Raja ke-7: Petta Cangge / Puang Cangge
Menikah dengan: Petta Bula’eng. Melahirkan anak bernama Petta Kanda (Arung Bojo).
8) Raja ke-8: Aru Mampi / Puang Mampi (Keturunan dari Petta La Palontang, saudara dari Petta La Manni/Raja Bacukiki ke 5 ).
Kemudian di turunkan kekuasaan kepada Puang Remmang, yang mana sistem bukan lagi sistem kerajaan, tetapi sistem disterik.
Silsilah Raja Bacukiki, versi 2
Oleh: A. M. SULTAN. H. Sd, S.Kom
http://beritaparepare.blogspot.co.id/2013/12/silsilah-keturunan-kerajaan-bacukiki.html
Sebelumnya nama saya A.M.Sultan H, adalah salah satu keturunan langsung arung Bacukiki dari garis arung mampi dan pemilik serta pemelihara sisa sisa tanda dan kebesaran Bacukiki, dimana sumber silsilahnya diperoleh dari data, cerita orang tua dan copian manuskrip yang tersimpan di belanda.
Arung pertama Bacukiki
1) Manurungge La Bangenge
2) We Pawawoi. (anak Labangenge dan We Tipulinge)
3) dan seterusnya. (ada di manuskrip).
16) La Riu Petta La Battowa (anak La Pau dan We Djareng) kawin dengan Muttiara petta dg risanga (anak dari Addituang Sidenreng To Appotunru dengan I Palaguna) melahirkan anak
01.La Cangge yang menjadi Arung Bacukiki ke 17,
02. la Chaco,
03. La Tudang,
04. La Tettong,
05. Dan beberapa lagi
17) La Changge kawin dengan I Wale, melahirkan anak La Gessa dg Parua arung Malolo (Arung Bacukiki ke 20)
18) La Ma’biritta (anak dari La Chaco (saudara La Changge) dengan I Panining) kawin dengan I Sudjo melahirkan La Manning (Arung Bacukiki ke 21)
19) La Gessa dg Parua kawin dengan I Djami (anak Adituang Sidenreng La Pangnguriseng)
20) La Manning beristri
1. Djanja dg Makanang melahirkan anak La Pallontang (arung bacukiki ke 21),
2. I Bua Bare’ melahirkan anak La Mallonjo '(arung Bacukiki. ke 22)
21) La Pallontang kawin dengan I Mappiaseng melahirkan La Mampi (arung bacukiki 24 (terakhir).
22) La Mallonjo’ kawin dengan melahirkan La Changge arung Bacukiki ke 23.
23) La Changge (sepupu satu kali La Mampi) kawin dengan Tassiau melahirkan Andi Iskandar (Petta Kanda anak tunggal).
24) La Mampi kawin dengan I Madda melahirkan :
Arsyad,
I patimang,
Muhabba,
Hamida,
Sundawi,
Husbaina,
Nur Ali.(*)